Maruki.id— Membaca buku To Ugi karya Andi Rahmat Munawar (ARM) menggiring kita untuk memasuki alam pikir manusia Bugis hingga ke akar-akarnya. Ia mengajak kita melihat, merasakan dan memaknai banyak hal, yang hari ini sulit untuk dipahami oleh generasi yang tumbuh dalam tradisi akademik yang sangat positivistik.
Dibanding dengan The Bugis karya Pelras (1996), To Ugi memberi perspektif baru pada cara kita memahami Bugis. Jika Pelras menjelaskan rumah Bugis dengan uraian yang rinci pada unsur fisik dan mengategorikannya sebagai budaya bendawi, maka ARM melihat abbolang (rumah Bugis) lebih kepada budaya non bendawi, karena ia merupakan representasi identitas dan harapan, yang berlandaskan dari sistem kepercayaan, sistem nilai dan pengetahuan.
Bagian awal buku ini berusaha untuk mengonstruksi sejarah awal Bugis. Selain merujuk kepada informasi arkeologi, penulis mengurai sejarah Bugis melalui analisis isi naskah La Galigo dan kronik-kronik Bugis.
Buku ini selanjutnya membahas sistem kepercayaan dan konsep kemanusiaan Bugis. Dengan bahasa yang lugas, To Ugi meluruskan pandangan barat tentang pelekatan identitas animisme, dinamisme dan 5 gender pada Bugis. Penulis menguraikan pappijeppu sebagai ilmu atau pengetahuan esoteris orang Bugis pra Islam. Penulis beranggapan bahwa pappijeppu adalah bentuk ajaran dari konsep sabi’in dalam konteks masyarakat Bugis pra Islam. Hal ini sekaligus menjadi counter argue ARM terhadap apa yang ditulis Pelras dalam The Bugis. Lebih lanjut, buku ini juga menghamparkan penjelasan tentang hal-hal metafisik seperti sennu-sennureng, baca-baca, gau-gaukeng, pemmali, kerreq, ulawu, barakkaq na salamaq.
Sebagai karya yang berangkat dari ikhtiar menerangkan hal-hal yang ‘perlu penjelasan’ pada praktik-praktik budaya Bugis, buku ini kaya akan tafsir atas simbol-simbol. Kita akan mendapat jawaban atas makna simbolis yang ada pada upacara-upacara adat, rumah, senjata, tenun hingga kuliner Bugis. Hal yang paling menarik dari buku ini adalah To Ugi membentangkan penjelasan yang amat dalam terkait cara pandang, adab, nilai-nilai personal dan kolektif, sifat-sifat kepemimpinan dan kontrak sosial di Tanah Bugis. Dari bagian ini, kita bisa mengambil banyak pelajaran tentang relevansi Bugis dengan zamannya.
Buku terbitan Sempugi ini relatif mudah dimengerti, dilengkapi footnote dan tabel-tabel yang sangat simpel & informatif. Karya setebal total 542+xxvi halaman ini juga dilengkapi petikan naskah La Galigo maupun lontaraq yang ditransliterasi dan diterjemahkan dengan rapi.
Melalui To Ugi, ARM tidak hanya menempatkan dirinya sebagai ‘tukang pungut’ pengetahuan leluhur, tetapi lebih jauh daripada itu, ia menyajikan kepada kita kontestasi wacana yang membentuk semesta pengetahuan. Inilah barangkali yang disebutnya sebagai Buginologi, sebuah konstruksi baru tentang bagaimana memahami Bugis dari manusia Bugis itu sendiri, bukan atas tafsiran atau logika asing.
Ke depan, saya rasa buku ini akan menjadi rujukan penting dan utama jika ingin mengetahui dan mempelajari budaya Bugis. ARM sebagai penulis To Ugi telah berburu dengan waktu merespon ‘ramalan leluhur’ tentang “engka seddi wettu lisui adeq e”. Oleh karena itu, buku ini sangat penting dibaca oleh generasi milenial dan zilenial, baik itu Bugis maupun non Bugis, dan siapa saja yang memiliki atensi pada kajian budaya dan pendidikan karakter.
Saya merekomendasikan kepada Anda semua untuk membaca buku luar biasa ini!
Penulis: Zulham A. Hafid

