Ustadz Abdul Shamad (UAS) dalam sebuah ceramahnya di mana beliau mengisahkan ketika sang bunda masih hidup.
“Tidak ada satu warung pun di kota Pekanbaru kecuali saya sudah memasuki, makan bersama ibu saya” tutur ustadz Abdul Shomad.
Ustadz Abdul Shomad termasuk ustadz kondang yang memiliki banyak kisah-kisah inspiratif terkait bagaimana memuliakan ibunya.
Sajak ia menjadi seorang penceramah papan atas kesibukan beliau tentu sangat padat. Undangan ceramah tidak hanya dari dalam negeri tapi juga dari luar negeri khususnya negara tetangga di Asean.
Meskipun demikian ia tetap berkomitmen bahwa setiap pekan ia harus di kota Pekanbaru demi membuktikan kesungguhan baktinya kepada sang ibu.
“Setiap hari Ahad, selama sehari penuh, dari pagi hingga sore, hp saya dalam keadaan off total. Hari itu adalah hari libur, hari untuk ibu.” Kenang UAS.
“Meskipun demikian ketika ibu saya meninggal dunia, saya tetap merasa sangat kehilangan, merasa belum melakukan apa-apa terhadapnya,” kisah ustadz Abdul Shomad.
Hari ini kami ikut mengantar jenazah seorang bunda yang tentu jauh diharapkan kehadirannya oleh sang anak yang masih belia.
Terisak batin ini menyaksikan sang Ananda memeluk pusara, melepas kepergian seorang ibu yang masih diharapkan belaian tangannya.
Saya berharap kepada kita² semua, jangan remehkan doa² yang kita lantunkan untuk mereka yang berduka, sebab insyaallah, atas izin Allah SWT jiwa yang diamuk duka itu dengan bantuan doa anda perlahan akan menemukan cahaya, cahaya menenteramkan, cahaya seolah yang sanggup membuat dunia lebih ringan dari dua helai sayap nyamuk,
Seperti kata Perkataan Ibnu Athaillah dalam Al Hikam :
> مَنْ وَجَدَ اللَّهَ فَمَاذَا فَقَدَ؟ وَمَنْ فَقَدَ اللَّهَ فَمَاذَا وَجَدَ؟
“Barang siapa menemukan Allah, apa lagi yang ia hilang? Dan barang siapa kehilangan Allah, apa yang ia temukan?”
Wallahu a’lam bish shawab.

