Alhamdulillah. Lapak Literasi FLP Lutim kembali bisa digelar. Kali ini kita melapak di Warkop Dekade, samping Perpustakaan Desa Sorowako. Selepas acara, rasanya terpapar semangat yang menyala-menyala. WAG jadi riuh ramai. Bahkan ada yang merasa lapak kali ini rasa-rasa kampus. Saya bisa merasakan hal yang sama. Tercium aroma dinamika pemikiran, varian gagasan, dan sejenisnya. Plus dibalut suasana santai.
Saya sampai saat Bu Keyka Sjamsoe berkisah tentang pengalaman literasinya. Berawal dari komik, dihinggapi pandangan liberal hingga memutuskan hijrah. Beliau menyebut satu judul buku, “Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring” karya dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ. Habis ibunya, giliran anaknya, Zulaikha yang berbagi. Ia salah seorang murid kami di SDIT Ulinnuha yang baru saja tamat. Anaknya memang senang baca. Bahkan 1 judul novel bisa dilahap sehari. Waktu penamatan dulu, saya dengar cita-cita para murid disebutkan. Zulaikha ingin menjadi Pembebas Baitul Maqdis. Keren level tinggi anak ini.
Lalu geser ke Bu Mirna. Dari semua yang hadir, Bu Mirna satu-satunya yang pernah satu forum dengan Tere Liye. Beliau menjadi saksi Tere Liye yang orang Palembang dan alumni Akuntansi Universitas Indonesia (UI) itu mirip-mirip gaya Ustadz Abdul Shomad, bicara gamblang. Bu Mirna juga menyebut dirinya terinspirasi buku Toto Tasmara berjudul “Etos Kerja Pribadi Muslim”.
Kesempatan sampai di Bro Syamsul Abbang. Ia yang menggagas acara hari ini. Bro berkisah tentang muasal kebiasaan membacanya terbentuk. Ibu beliau yang “pegang” perpustakaan sekolah. Juga tentang kelananya di rimba pemikiran. Menyukai Buya HAMKA dan Pramoedya Ananta Toer (Pram) yang notabene berseberangan paham. Bahkan, Bro mengenakan kaos hitam dengan foto Pram kali ini. Untuk buku sendiri, ia menyebut judul Mizanul Muslim karya Abu Ammar Abu Fatiah Al Adnani. Buku itu dikajinya secara serius. Serius sekali hingga tembus 10 tahun. Saya tanya, apa secara otodidak? Dijawab lewat halaqah.
Tiba giliran anak-anak SMP YPS yang hari itu didampingi Mr. Nepi. Mereka hadir sebagai kontributor antologi bertajuk “Pena Garuda Belia”. Keren anak-anak ini. Masih SMP sudah terbitkan buku. Kapan momen yang dirasa pas untuk menulis? Genre apa yang disukai? Tulisan-tulisan diterbitkan di platform apa? Bagaimana respon teman-teman sebaya terhadap antologi karya mereka? Kira-kira itu di antara yang jadi bahan bincang kami. Tak ketinggalan Khansa, anaknya suhu Yunita Rachmuddin yang bercerita tentang temuannya di buku “Semua Ikan di Langit” karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie.
Dapat giliran terakhir. Di tangan saya ada buku “Napak Tilas Pemikiran Dakwah Ust. K.H. Hilmi Aminuddin”. Saya sampaikan ada nasehat yang — kurang lebih — mengarahkan kita untuk mengambil nasehat dari orang yang sudah wafat. Mengapa? Karena mereka sudah ketahuan ujung hayatnya. Kita bisa meraba-raba mereka husnul khotimah atau sebaliknya su’ul khotimah. Pun mengutip perkataan Imam Syafi’i bahwa ilmu sejatinya yang sudah diamalkan bukan sebatas hafalan. Bahwa saya selektif pada bacaan. Dan menjadikan variabel praktek lapangan penulis buku sebagai parameter.
Ustadz Hilmi wafat tahun 2020 silam. Tepatnya tanggal 30 Juni kala pandemi. Beliau adalah aktor lapangan. Yang diikuti murid-muridnya. Di antara muridnya ada Dr. Hidayat Nur Wahid, Wakil Ketua MPR RI saat ini. Ada Prof. Irwan Prayitno, mantan Gubernur Sumatera Barat dua periode. Itu yang pejabat. Yang penulis ada nama Salim A. Fillah dan Cahyadi Takariawan. Dan yang spesial, sebetulnya buku-buku Ustadz Hilmi itu bukan buku karyanya. Tapi kumpulan arahan beliau yang dibukukan oleh murid-muridnya dari berbagai kesempatan perjalanan (baca: praktek lapangan) dakwah mereka. Tambahan, dan saya kira banyak yang tidak tahu ini, beliau yang masih asing namanya di tanah air justru dikenal di luar negeri. Dalam buku “Wacana Kebangsaan | Paradigma Baru Kepemimpinan Dakwah di Era Keterbukaan Politik Indonesia” yang sekali lagi merupakan kumpulan arahan (taujih) beliau, ada testimoni dari Prof. Dr. Ismail Lutfi Japakiya, Rektor Universitas Patani, Thailand.

Saya putuskan untuk menyorot bagian di halaman 50–51 di bawah subjudul “Potensi Generasi Tua dan Generasi Muda”. Berikut salin tempelnya:
“Ada kelompok anak muda yang ingin meninggalkan para generasi tua karena dirasa tidak lagi berguna. Ada kelompok orang tua yang mengatakan bahwa anak muda tidak mengerti apa yang mereka lakukan dan tidak sesuai dengan harapan”
“Generasi muda memiliki semangat yang luar biasa besar, sedangkan generasi tua ada dalam posisi yang kaya dengan wawasan sejarah , yang mengerti bagaimana dahulu organisasi ini ditumbuhkan dan bagaimana kisah-kisah masa lalu.”
“Ustadz Hilmi sering mengistilahkan dengan: kebijaksanaan orang tua di dalam semangatnya anak muda, dan semangatnya anak muda di dalam bimbingan orang tua. Inilah cara pandang yang menghimpun semua potensi.”
Kiranya kutipan dari buku Napak Tilas di atas pas dengan peserta yang hadir kali ini. Ada bapak-bapak, mamak-mamak, dan anak-anak sekolah menengah. Rentang usia kami yang melampaui bilangan dekade sedikit banyak bisa disatukan oleh Lapak Literasi di Warkop Dekade kali ini.

Tentu saja, orang Indonesia suka foto-foto. Seperti garam pada sayur, begitu foto pada acara. Maka kita dokumentasi dulu. Termasuk foto penyerahan buku — rencana awalnya mau jadi doorprize — ke Perpustakaan Desa Sorowako. Dokumentasi lengkap dapat dicek disini
Apa yang mendentingkan gerakan kebaikan? Memberinya energi untuk terus berjalan? Salah satunya literasi. Alhamdulillah. Terus berbakti, berkarya, berarti. Salam literasi!

