Maruki.id- Kabar kepergian seseorang yang menjadi panutan telah mendahului para orang yang mencintainya di dunia. Tidak ada tanda-tanda sebelumnya, karena tugas abdi negara telah dijalankan dengan baik dari pagi sampai sore. Sepulang dari tugas itu, sebuah panggilan telepon masuk ke alat komunikasi. Diangkat dengan perlahan, dengan pertanyaan dalam hati yang mengganggu. Banyak pertanyaan yang timbul yang mendebarkan jantung, tidak seperti biasanya.
Laki-laki itu telah menyelesaikan tugasnya di dunia, telah memberikan inspirasi, harapan, dan kasih sayang tiada tara. Belum sempat kami, anak-anaknya, membalasnya di dunia. Sakit sekali memang, sangat pedih memang, dan perih seperti luka irisan yang diberikan perasan jeruk asam. Begitu yang menggerogoti tubuh ini.
Kami paham rencana kami baik, tapi Rencana Tuhan Lebih baik. Sebagaimana Firman-Nya dalam QS. Al-Baqarah (2:216): “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
Dengan ini A.Mukhlis menyampaikan dalam bukunya bahwa belajarlah kita berteman dengan ketidak Nyamanan.dan belajar banyak berterima kasih kepada Allah SWT atas takdir yang ditetapkan
Ayat ini menegaskan bahwa apa yang dianggap buruk oleh manusia bisa jadi baik menurut Allah, dan sebaliknya. Itu Firman Allah SWT yang menjadi penopang sehingga kami tidak tumbang dan menjadi pondasi sehingga kami kokoh. Dan Firman Allah SWT yang menjadi penguat kami, QS Al-Baqarah ayat 156 yang berbunyi: “Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya lah kami semua kembali.”
Ayat ini menjelaskan tentang konsep kepemilikan Allah atas segala sesuatu dan bahwa semua makhluk akan kembali kepada-Nya. Ini tentang waktu, untuk menghadap kepada-Nya. Yang menjadi pertanyaan bagi aku, kamu, dan kita semua, apakah kita telah mempersiapkan bekal kita untuk bertemu dan mempertanggungjawabkan atas fasilitas yang Dia berikan kepada kita?
Kematian adalah pengingat yang paling kuat bagi manusia untuk berbuat baik dan mempersiapkan diri untuk kehidupan setelah mati. Ujian (baik berupa kesulitan maupun kesenangan) dipandang sebagai cara Allah untuk meningkatkan derajat hamba-Nya di sisi-Nya. Ujian bukan sekadar cobaan, tetapi juga sarana untuk menguatkan iman, menghapus dosa, dan mendekatkan diri kepada Allah.
Dan ada lagi berita gembira dari Nabi Muhammad SAW. Hadits tersebut diriwayatkan dari Abu Hurairah RA dalam hadits riwayat Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda: “Apabila manusia itu meninggal dunia, maka terputuslah segala amalnya kecuali tiga: yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak sholeh yang berdoa baginya.”
Sedekah jariyah adalah sesuatu yang terus-menerus manfaatnya, seperti wakaf tanah, buku-buku, hingga lembaga-lembaga pendidikan seperti pesantren dan lain sebagainya. Pahalanya akan terus mengalir meskipun kita sudah wafat.
Ilmu bermanfaat juga merupakan salah satu amal yang tidak akan terputus setelah kematian. Dalam sebuah hadits disebutkan, “Barangsiapa membaca Al-Qur’an dan mengamalkannya, maka kedua orang tuanya pada hari kiamat akan dipakaikan mahkota yang cahayanya lebih bagus daripada cahaya matahari menembus rumah-rumah di dunia.”
Doa anak sholeh juga merupakan salah satu amal yang tidak akan terputus setelah kematian. Doa kepada kedua orang tua adalah kebaktian yang masih bisa dilakukan seorang anak kepada orang tuanya yang telah meninggal dunia dan terus memberikan kebaikan pada orang tua. Doa seorang anak akan terus mengalir kebaikan dan manfaat dan balasan kebaikan bagi kedua orang tua tatkala amal-amal lainnya telah terputus.
Dari Abdullah bin Umar RA, Rasulullah SAW bersabda: “Keridhaan Allah bergantung kepada keridhaan kedua orangtua dan murka Allah juga bergantung kepada murka kedua orang tua.” (HR At-Tirmidzi).
Penulis: Arham

