Maruki.id— Setiap 12 Juli, kita memperingati Hari Koperasi Nasional. Tapi jujur saja, berapa banyak dari kita yang benar-benar merasakan makna koperasi dalam keseharian? Sebagian besar mungkin masih menganggap koperasi itu tempat simpan pinjam, atau sekadar warung kelontong milik bersama. Padahal, koperasi bisa jauh lebih besar dari itu, apalagi jika kita bicara tentang masa depan ekonomi rakyat.
Pemerintahan Prabowo-Gibran membawa harapan baru lewat program Koperasi Desa Merah Putih. Gagasannya sederhana tapi kuat: menjadikan koperasi sebagai motor ekonomi desa. Setiap desa dan kelurahan di Indonesia didorong punya koperasi unggulan, lengkap dengan dukungan modal, pelatihan, dan akses pasar. Bukan hanya hidup, tapi berkembang jadi pusat ekonomi komunitas.
Sebagai digital marketer, saya melihat ini sebagai peluang emas. Kenapa? Karena koperasi bisa jadi jembatan antara produk lokal dan pasar digital. Bayangkan petani di desa yang produknya dikemas rapi, dijual lewat marketplace, dipromosikan lewat media sosial, dan dikelola lewat aplikasi keuangan koperasi. Koperasi bukan lagi tempat “berutang”, tapi ruang kolaborasi, branding, dan distribusi ekonomi warga.
Tentu, program Koperasi Desa Merah Putih tidak akan otomatis sukses hanya karena anggaran digelontorkan. Perlu pendekatan digital, pelatihan yang relevan, dan pendampingan kreatif. Koperasi masa kini harus adaptif: bisa bikin konten, tahu tren pasar, dan paham cara membangun kepercayaan di dunia online.
Momentum Hari Koperasi ini penting untuk memikirkan ulang: koperasi jangan hanya diperingati, tapi dimodernisasi. Kalau dulu koperasi jadi simbol gotong royong, sekarang koperasi bisa jadi simbol kemandirian digital rakyat.
Buat saya pribadi, koperasi adalah ruang yang bisa menyatukan tiga hal penting: nilai, produksi, dan distribusi. Dan jika dijalankan serius, Koperasi Desa Merah Putih bisa menjadi tonggak kebangkitan ekonomi rakyat—dimulai dari desa, dan tumbuh sampai kota.
Andi Hasmuliadi
Pegiat Digital Marketing

