Maruki Opini: By RR Bang Maman
Dalam arus besar demokrasi, partai politik kerap dipandang sebagai mesin kekuasaan. Ia bekerja dalam logika massa, suara, dan elektabilitas bergerak dari basis dukungan menuju pengaruh di ruang publik. Tujuannya jelas yaitu menang merebut kekuasaan. Namun kemenangan, tanpa pondasi nilai, hanyalah kemenangan yang kosong arah.
Sementara itu, dalam medan yang lebih dalam dan senyap, dakwah berjalan sebagai ikhtiar panjang. Ia bukan hanya mengajak, tapi menata hati, mengokohkan akhlak, mengakar di bumi nilai. Dakwah tidak mengejar panggung, melainkan perbaikan yang sistemik dan berkesinambungan.
Ketika keduanya bertemu partai dan dakwah maka lahirlah jalan yang tidak biasa. Sebuah sintesis yang langka dan agung yakni Partai Dakwah. Ia bukan sebatas alat politik, tapi juga kendaraan nilai. Ia bukan hanya kompetitor demokrasi, tetapi juga penjaga akhlak kolektif umat.
Seperti yang dikatakan oleh Sayyid Quthb, bahwa “Sesungguhnya jalan dakwah adalah jalan yang berat, panjang, dan dipenuhi ujian. Tapi di situlah tempat para pejuang keimanan diuji dan ditempa.”
Di tengah arus kekuasaan yang melenakan, partai dakwah memilih untuk tetap waras. Ia menghadirkan kecerdasan strategis yakni kemampuan untuk membaca realitas sosial dengan cermat, lalu merumuskan langkah dengan presisi, tanpa kehilangan idealisme.
“Orang yang cerdas bukanlah mereka yang hanya mengetahui arah angin, tapi mereka yang tahu bagaimana mengendalikan layar.” ~John Maxwell
Partai dakwah tidak anti-strategi, justru ia belajar menyusun langkah dengan presisi. Namun, strategi bukanlah tipu muslihat, melainkan seni membaca zaman. Taktik tidak dijadikan topeng, tetapi alat untuk menyampaikan kebenaran pada waktunya.
Sebagaimana pesan seorang ulama ternama*Hassan Al-Banna,* bahwa
“Kewajiban kita bukan untuk menang, tapi untuk berjuang dengan jujur dan ikhlas. Kemenangan adalah urusan Allah.”
Dengan pemahaman ini, partai dakwah tidak hanya menyiapkan mesin politik, tetapi juga membentuk jiwa kader yang kokoh. Mereka diajak tidak hanya memenangkan suara, tetapi juga memuliakan cara. Sebab kekuasaan yang datang tanpa nilai, ibarat rumah indah di atas pasir rapuh.
Dalam ruang-ruang internalnya, partai dakwah membina kader dengan nilai-nilai ikhlas, istiqamah, amanah, dan melayani. Sebuah mazhab kaderisasi yang tidak dibentuk oleh hasrat kuasa, tapi oleh cinta kepada perjuangan dan kemuliaan tujuan.
Kita meyakini, bahwa perjuangan dakwah dalam ranah politik bukan tanpa resiko. Ada tekanan ideologis, ujian materi, jebakan popularitas, dan ancaman deviasi arah. Namun seperti dikatakan oleh Malcolm X :
‘Jika kamu tidak siap mati untuk sesuatu, maka kamu tidak siap untuk hidup.”
Inilah yang menjadikan kader partai dakwah berbeda. Mereka adalah pejalan sunyi yang mampu meniti jalan sempit penuh duri tanpa kehilangan arah. Mereka berpikir strategis, bertindak taktis, namun tetap berjiwa melayani.
Sebagaimana semboyan Sekolah Kepanduan salah ide program yang digagas oleh bidang Kepanduan DPW PKS Sulawesi Selatan yakni :
“Berpikir strategis, bertindak taktis, berjiwa melayani.’
Itulah trilogi perjuangan yang menjembatani langit dan bumi. Mencari ridha Allah dalam strategi politik, serta menjadikan pelayanan kepada umat sebagai jalan mendekat kepada-Nya.
Akhirnya, Partai Dakwah bukanlah soal berapa kursi yang direbut, tapi berapa nilai yang dijaga. Ia bukan tentang menguasai negeri, tapi tentang memuliakan umat. Ia hadir bukan untuk mengalahkan lawan, tetapi untuk menguatkan kebaikan di tengah masyarakat.
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” ~ QS. Ash-Shaff : 4
Maka marilah kita merawat partai dakwah bukan hanya dengan strategi politik, tetapi dengan ruh perjuangan. Sebab kemenangan yang sejati bukanlah naiknya suara di bilik suara, tetapi tegaknya kebenaran di tengah umat.
Parang Tambung, 30/7/2025 | 03.00

